WAKTU ADZAN MEMBAWA HIKMAH
Krinnnnnngggggggg……
Bunyi getarannya,
masuk menusuk saraf telinga, membuatku harus terbangun dari lelapnya mimpi malam. Jam
menunjukkan pukul 04.00 WIB, ini saatnya untukku membersihkan kamar, mandi lalu
membangunkan sang jagoanku yaitu Zaky yang masih terlelap di atas ranjang.
“Zaky, bangun, ayo kita pergi sholat shubuh berjamaah di masjid.” Ucapku
dengan setengah menggoyangkan badannnya.
“Baiklahh kak,” dengan nada rendah sambil menguap, ia pun bergegas mandi.

Setelah
lima belas menit kemudian, kami siap untuk berangkat ke masjid. Kami hanya
pergi berdua, ayah dan ibu sedang bertugas di luar kota, oleh karena itu aku
ditugaskan untuk menjaga jagoan kecilnya. Ini bukan pertama kalinya untukku,
ayah dan ibu memang sering ditugaskan diluar kota, dan karena itu juga kami
dilatih untuk hidup mandiri.
Dan
setibanya di masjid...
“Kak ini sudah pukul 04.20, kenapa masih belum ada
yang datang ya kak?” tanya zaky
“Iya, kenapa sepi ya? Hmm, sebaiknya kamu adzan dulu
deh ky” kataku, sambil memandangi sekitar.
“Baiklah kak”.

Setelah adzan, kami
bersholawat sambil menunggu yang lain datang, tapi setelah hampir 10 menit,
tidak ada satu pun warga yang nampak, hanya angin yang berhembus dengan
bebasnya di alam yang membuat suasana semakin dingin dan canggung. Akhirnya
kami memutuskan untuk memulai sholat berjamaah walaupun hanya berdua. Setelah itu kami
belajar mengaji, membaca al qur’an sebentar, setelah itu pulang.

Sesampainya
di rumah, kami berdebat, kami terus membicarakan apa yang terjadi tadi.
“Kenapa tidak ada orang yang pergi ke masjid?
Padahal hari ini, bukan hari libur.” Tanya zaky
“Entahlah, mungkin mereka masih terlelap dengan
pulasnya di dalam kamar atau mereka tidak menyadari jika suara adzan sudah
berkumandang” kataku, lalu zaky menimpali
“Dan bisa jadi juga mereka lebih memilih sholat di
rumah daripada di masjid kak”.
“Ya, mungkin memang benar begitu.”
Hari
demi hari berlalu, namun tidak ada perubahan. Hal itu terus saja terjadi sama
seperti kemarin – kemarin. Akhirnya kami memikirkan cara dan kami memutuskan
untuk merencanakan sesuatu.
“Zaky bagaimana ya, caranya agar mereka bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid?
Terutama pada waktu sholat subuh” tanyaku.
“Iya kak, bagaimana ya caranya?"
Setelah
beberapa menit kita terdiam, akhirnya suatu ide untuk memecahkan jalan keluar
ini terpintas dalam pikiran.

“Bagaimana jika nanti pagi pukul 09.30 (pagi) kita ke masjid
untuk mengumandangkan adzan?” kataku dengan wajah penuh harapan .
“Adzan? Untuk apa kak? Kita akan melakukan apa?
Tanya zaky bingung.
“Sudahlah kau ikuti saja apa yang aku katakan
zaky.”
“Ya, okelah kak” ucap zaky dengan semangat.
Beberapa
jam kemudian, jam dinding sudah menempatkan jarumnya tepat di pukul 09.30. Kami
pun bergegas untuk pergi ke masjid. Sesampainya kami dimasjid, zaky pun segera mengumandangkan adzan. Semua warga kampung terdengar akan suara adzan tersebut,
mereka saling bertanya – tanya, apa yang terjadi. Mungkin mereka berfikir,
mengapa ada adzan pada jam sekian. Lalu tiba tiba dalam hitungan detik para
warga berbondong – bondong menuju masjid. Sesampainya disana, mereka
langsung menghampiri kami, dan bertanya apa yang kami lakukan.

“Kenapa kalian mengumandangkan adzan pada jam segini,
apa kalian tidak melihat jam dinding?” kata salah satu warga.
Kami berdua tersenyum.
Kami berdua tersenyum.
“Kenapa pada waktu kami mengumandangkan adzan pada
waktu yang salah, kalian malah berbondong – bondong untuk datang ke masjid,
sedangkan saat kami mengumandangkan adzan tepat pada waktu sholat, terutama
pada saat sholat subuh, kalian seolah tidak mendengarnya?” mereka semua
terdiam, lalu mereka saling memandang satu sama lain.
Akhirnya beribu alasan terlontar dari mulut mereka.
“Saya tidak mendengar adzan”,
“Ya saya baru pulang dari kerja”,
“Benar, saya juga sibuk tadi malam, oleh karena itu saya
tertidur lelap”,
“ Saya sedang sakit tadi malam, sampai saat ini
pun juga masih tidak enak badan.”
Mereka saling, mengeluarkan seluruh alasan
yang bisa mereka katakan.

“Apalah yang bisa kami katakan pak, bu. Sesungguhnya
yang mengetahui semua kebenaran ini hanyalah Allah swt, kami disini hanya bisa
mengingatkan, dan memberi tahu.” Ucapku sambil tersenyum memandang warga
kampung.
“Dan sebelum juga kami ingin meminta maaf atas apa
yang telah kami perbuat tadi, Kita memang hanyalah anak kecil dan mungkin seharusnya
kami tidak melakukan ini.”
Semua terdiam.
Semua terdiam.
“Bapak, ibu sekali lagi kami meminta maaf, kami mohon
maaf jika apa yang kami lakukan, telah menyinggung hati kalian dan mungkin
apa yang telah kami lakukan tadi kurang pantas untuk anak seusia kami.” Kataku dengan nada
yang amat sangat menyesal.
Lalu tiba – tiba mereka semua tersenyum, lalu salah
satu warga memimpin untuk mewakili terlebih dulu untuk membuka pernyataan.
“Apa yang kalian lakukan ini luar biasa nak, ini
sangat membuat kami kagum. Bahkan kalian telah menyadarkan kami akan pentingnya
sholat. Atas perilaku kami yang seharusnya tidak kami lakukan pada usia kami
yang sekarang ini.”
Kemudian salah satu warga menimpali
“Benar nak, kami malu. kalian telah menyadarkan
kami, kami terlalu teropsesi dengan kebahagiaan dalam urusan duniawi, sampai
sampai kami lupa akan kewajiban kami kepada yang kuasa. Kalian yang masih kecil
saja mengerti akan dunia ini, mengapa kami tidak bisa mengerti. Jiwa dan
hati kalian memanglah sangat mulia,
kalian mengeluarkan kami dari jalan yang salah nak.”
Akhirnya
kami bersyukur atas semua ini, ternyata apa yang kami lakukan menuai hasil yang
sempurna dan setelah kejadian itu, sekarang masjid sangatlah ramai, banyak
orang berbondong bondong untuk sholat berjamaah, bahkan 5 waktu sekaligus,
mereka rajin pergi ke masjid untuk sholat, belajar mengaji, membaca al qur’an
dan melakukan pengajian rutin. Ini merupakan salah satu hikmah dari apa yang
kami lakukan.

Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya kedua
orang tua kami pulang. Mereka mendengar apa yang telah kami lakukan. Mereka
amat sangat bangga dengan apa yang telah kami perbuat. Hal itu merupakan suatu
keberhasilan yang amat sangat luar biasa. Kami bisa membahagiakan orang tua, mengangkat
derajatnya dan mengeluarkan seseorang dari jalan yang salah, ini benar benar
luar biasa. Tiada hentinya kami berterima kasih atas apa yang telah Allah
berikan pada kami.

: قاَلَ الإمَامُ البُخاَرِي رَحِمَهُ اللهُ
: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ
وَعِشْرِينَ دَرَجَةً .
Imam al-Bukhari ra berkata: Telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Yusuf yang berkata: Telah mengabarkan kepada kami
Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat
sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.
KARYA : EQI NASYA AULIA