SELAMAT MEMBACA KAWAN...

Kamis, 11 April 2019

CERPEN AGAMIS


WAKTU ADZAN MEMBAWA HIKMAH

         
Krinnnnnngggggggg……

Bunyi getarannya, masuk menusuk saraf telinga, membuatku harus terbangun dari lelapnya mimpi malam. Jam menunjukkan pukul 04.00 WIB, ini saatnya untukku membersihkan kamar, mandi lalu membangunkan sang jagoanku yaitu Zaky yang masih terlelap di atas ranjang. 

“Zaky, bangun, ayo kita pergi sholat shubuh berjamaah di masjid.” Ucapku dengan setengah menggoyangkan badannnya.

“Baiklahh kak,” dengan nada rendah sambil menguap, ia pun bergegas mandi.
Gambar terkait
          Setelah lima belas menit kemudian, kami siap untuk berangkat ke masjid. Kami hanya pergi berdua, ayah dan ibu sedang bertugas di luar kota, oleh karena itu aku ditugaskan untuk menjaga jagoan kecilnya. Ini bukan pertama kalinya untukku, ayah dan ibu memang sering ditugaskan diluar kota, dan karena itu juga kami dilatih untuk hidup mandiri. 

          Dan setibanya di masjid...

“Kak ini sudah pukul 04.20, kenapa masih belum ada yang datang ya kak?” tanya zaky

“Iya, kenapa sepi ya? Hmm, sebaiknya kamu adzan dulu deh ky” kataku, sambil memandangi sekitar. 

“Baiklah kak”. 

Gambar terkait
Setelah adzan, kami bersholawat sambil menunggu yang lain datang, tapi setelah hampir 10 menit, tidak ada satu pun warga yang nampak, hanya angin yang berhembus dengan bebasnya di alam yang membuat suasana semakin dingin dan canggung. Akhirnya kami memutuskan untuk memulai sholat berjamaah walaupun hanya berdua. Setelah itu kami belajar mengaji, membaca al qur’an sebentar, setelah itu pulang. 
Gambar terkait
          Sesampainya di rumah, kami berdebat, kami terus membicarakan apa yang terjadi tadi. 

“Kenapa tidak ada orang yang pergi ke masjid? Padahal hari ini, bukan hari libur.” Tanya zaky

“Entahlah, mungkin mereka masih terlelap dengan pulasnya di dalam kamar atau mereka tidak menyadari jika suara adzan sudah berkumandang” kataku, lalu zaky menimpali 

“Dan bisa jadi juga mereka lebih memilih sholat di rumah daripada di masjid kak”. 

“Ya, mungkin memang benar begitu.” 

          Hari demi hari berlalu, namun tidak ada perubahan. Hal itu terus saja terjadi sama seperti kemarin – kemarin. Akhirnya kami memikirkan cara dan kami memutuskan untuk merencanakan sesuatu. 

“Zaky bagaimana ya, caranya agar mereka bisa  melaksanakan sholat berjamaah di masjid? Terutama pada waktu sholat subuh” tanyaku. 

“Iya kak, bagaimana ya caranya?"

          Setelah beberapa menit kita terdiam, akhirnya suatu ide untuk memecahkan jalan keluar ini terpintas dalam pikiran. 
Gambar terkait
“Bagaimana jika nanti pagi pukul 09.30 (pagi)  kita ke masjid  untuk mengumandangkan adzan?” kataku dengan wajah penuh harapan . 

“Adzan? Untuk apa kak? Kita akan melakukan apa? Tanya zaky bingung. 

“Sudahlah kau ikuti saja apa yang aku katakan zaky.” 

“Ya, okelah kak” ucap zaky dengan semangat. 

          Beberapa jam kemudian, jam dinding sudah menempatkan jarumnya tepat di pukul 09.30. Kami pun bergegas untuk pergi ke masjid. Sesampainya kami dimasjid, zaky pun segera mengumandangkan adzan. Semua warga kampung terdengar akan suara adzan tersebut, mereka saling bertanya – tanya, apa yang terjadi. Mungkin mereka berfikir, mengapa ada adzan pada jam sekian. Lalu tiba tiba dalam hitungan detik para warga berbondong – bondong  menuju masjid. Sesampainya disana, mereka langsung menghampiri kami, dan bertanya apa yang kami lakukan.
Gambar terkait
“Kenapa kalian mengumandangkan adzan pada jam segini, apa kalian tidak melihat jam dinding?” kata salah satu warga. 

Kami berdua tersenyum. 

“Kenapa pada waktu kami mengumandangkan adzan pada waktu yang salah, kalian malah berbondong – bondong untuk datang ke masjid, sedangkan saat kami mengumandangkan adzan tepat pada waktu sholat, terutama pada saat sholat subuh, kalian seolah tidak mendengarnya?” mereka semua terdiam, lalu mereka saling memandang satu sama lain. 

Akhirnya beribu alasan terlontar dari mulut mereka. 

“Saya tidak mendengar adzan”, 

“Ya saya baru pulang dari kerja”, 
 
“Benar, saya  juga sibuk tadi malam, oleh karena itu saya tertidur lelap”, 

“ Saya sedang sakit tadi malam, sampai saat ini pun juga masih tidak enak badan.”

Mereka saling, mengeluarkan seluruh alasan yang bisa mereka katakan.
Gambar terkait
“Apalah yang bisa kami katakan pak, bu. Sesungguhnya yang mengetahui semua kebenaran ini hanyalah Allah swt, kami disini hanya bisa mengingatkan, dan memberi tahu.” Ucapku sambil tersenyum memandang warga kampung. 

“Dan sebelum juga kami ingin meminta maaf atas apa yang telah kami perbuat tadi, Kita memang hanyalah anak kecil dan mungkin seharusnya kami tidak melakukan ini.” 

Semua terdiam. 

“Bapak, ibu sekali lagi kami meminta maaf, kami mohon maaf jika apa yang kami lakukan, telah menyinggung hati kalian dan mungkin apa yang telah kami lakukan tadi kurang pantas untuk anak seusia kami.” Kataku dengan nada yang amat sangat menyesal. 

Lalu tiba – tiba mereka semua tersenyum, lalu salah satu warga memimpin untuk mewakili terlebih dulu untuk membuka pernyataan.

“Apa yang kalian lakukan ini luar biasa nak, ini sangat membuat kami kagum. Bahkan kalian telah menyadarkan kami akan pentingnya sholat. Atas perilaku kami yang seharusnya tidak kami lakukan pada usia kami yang sekarang ini.” 

Kemudian salah satu warga menimpali 

“Benar nak, kami malu. kalian telah menyadarkan kami, kami terlalu teropsesi dengan kebahagiaan dalam urusan duniawi, sampai sampai kami lupa akan kewajiban kami kepada yang kuasa. Kalian yang masih kecil saja mengerti akan dunia ini, mengapa kami tidak bisa mengerti. Jiwa dan hati  kalian memanglah sangat mulia, kalian mengeluarkan kami dari jalan yang salah nak.” 

          Akhirnya kami bersyukur atas semua ini, ternyata apa yang kami lakukan menuai hasil yang sempurna dan setelah kejadian itu, sekarang masjid sangatlah ramai, banyak orang berbondong bondong untuk sholat berjamaah, bahkan 5 waktu sekaligus, mereka rajin pergi ke masjid untuk sholat, belajar mengaji, membaca al qur’an dan melakukan pengajian rutin. Ini merupakan salah satu hikmah dari apa yang kami lakukan.
Hasil gambar untuk gambar masyarakat sholat berjamaah kartun
           Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya kedua orang tua kami pulang. Mereka mendengar apa yang telah kami lakukan. Mereka amat sangat bangga dengan apa yang telah kami perbuat. Hal itu merupakan suatu keberhasilan yang amat sangat luar biasa. Kami bisa membahagiakan orang tua, mengangkat derajatnya dan mengeluarkan seseorang dari jalan yang salah, ini benar benar luar biasa. Tiada hentinya kami berterima kasih atas apa yang telah Allah berikan pada kami.
 Gambar terkait

    : قاَلَ الإمَامُ البُخاَرِي رَحِمَهُ اللهُ
: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً .
Imam al-Bukhari ra berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf yang berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.

KARYA : EQI NASYA AULIA